gallery/img_1411
SEJARAH

 

Pasar Antik Triwindu

Penanda 24 Tahun KGPAA Mangkunegara VII bertahta

Oleh: Bambang HP, BCHK

Pasar Triwindu Surakarta berdiri sejak tahun 1939 sebagai penanda 24 tahun KGPAA Mangkunegara VII naik tahta. Tri berarti 3 (tiga) dan Windu berarti 8 (delapan), jadi Triwindu berarti tiga windu atau 24 tahun. Perayaan 24 tahun naik tahta KGPAA Mangkunegara VII dirayakan besar-besaran oleh kerabat (trah) Mangkunegara dan masyarakat Surakarta serta dihadiri oleh Ratu Wilhelmina dari Negara Belanda.

 

Pasar triwindu terletak di Pura Mangkunegaran yang dulunya dipakai sebagai kandang (gedongan) kuda milik Mangkunegaran. Berdasarkan Undang-Undang atau peraturan, tanah tanah bekas milik Mangkunegaran tersebut saat ini dikelola/dikuasai oleh Pemerintah Kota Surakarta namanya diganti menjadi Pasar Windu Jenar.

 

Barang-barang yang diperdagangkan dapat dikelompokan sebagai berikut:

 

Pada awal berdirinya sampai tahun 1966, barang dagangan masih bercampur antara onderdil sepeda motor/mobil, alat pertukangan, alat-alat rumah tangga dan sedikit model antik dan lain-lain.

Sesudah banjir tahun 1966, yaitu setelah berdirinya pasar Sumodilagan, barang-barang klitikan/rongsokan hamper sudah tidak ada lagi. Pada masa itu masih banyak barang-barang lama yang berkualitas baik tetapi belum disebut barang antik, seperti: lampu gantung, patung perunggu dari Eropa, keramik dari China, pot/vas bunga model Eropa, dan alat-alat rumah tangga yang terbuat dari perak dan lain-lain.

 

Sejak tahun 1970-an dagangan tersebut di atas berubah menjadi apa yang disebut barang antiK. Barang antiK adalah barang yang mempunyai nilai cukup umur (lebih dari 50 tahun) tetapi kondisinya masih bagus.

 

Pada tahun 1990-an para pedagang barang antik di Pasar Triwindu mencoba memperkrasai membuat barang/produk baru yang bermotif antik (reproduksi), misalnya: Mebel dari serenan dan Jepara; Patung Perunggu dari Mojoagung dan Trowulan Jawa Timur; Keramik dari Bandung (Jawa Barat), Dinoyo dan Malang (Jawa Timur), Singkawang, Pontianak (Kalimantan Barat); Kerajinan Kuningan dari Juwono, Kerajinan Perak dari Yogyakarta; Besi Cor dari Ceper Pedan Klaten; Patung Kayu dari Wonogiri; dan Keris dari Kota Solo.

 

Sejak krisi moneter tahun 1997, perdagangan onderdil sepeda motor/mobil dan elektro maupun alat-alat pertukangan mengalami penurunan drastic karena adanya pasar loak (barang bekas) di sekitar Monumen Banjarsari yang kini telah direlokasi ke Pasar Klithikan Notoharjo Semanggi.

 

Pada bulan Juni 2008 sampai dengan Agustus 2009 Pasar Triwindu dipugar menjadi bangunan berlantai 2 (dua) yang lebih representative untuk berjualan. Selesai pemugaran diresmikan oleh Walikota Ir. Jokowi pada tanggal 25 Oktober 2009 dengan menggelar kirab budaya boyongan yang diikuti oleh para pedagang dari pasar darurat yang berlokasi di komplek Taman Sriwedari menuju Pasar Triwindu.

 

Pengunjung/konsumen Pasar Triwindu beraneka ragam, ada pembeli barang untuk dijadikan souvenir, produsen, kolektor dsb. Pembeli barang antik tidak hanya wisatawan domestik/dalam negeri saja, namun juga banyak wisatawan manca Negara (Amerika, Kanada, Australia, Belanda, Jerman, Perancis, Italia, Jepang, Korea, Singapura, Mexico, Timur Tengah, Afrika Selatan, Inggris, Spanyol, Malaysia dll).

 

Untuk menarik wisatawan, di pelataran Pasar Triwindu sering dipergunakan untuk menggelar aneka pentas budaya diantaranya Musik Keroncong, Musik Jazz, Wayang Kulit, dan berbagai jenis kesenian yang lain. Juga tidak jarang pelataran Pasar Triwindu digunakan sebagai ajang welcome dinner/jamuan pembukaan berbagai kegiatan ataupun konggres tingkat nasional bahkan internasional yang diselenggarakan di kota Solo. Kawasan sekitar Pasar Triwindu dan jalan yang membentang dari depan Pura Mangkunegaran sampai jalan Slamet Riyadi lebih dikenal sebagai Koridor Budaya Ngarsopura, yang setiap Sabtu malam dipakai untuk kegiatan Night Market.

FREQUENTLY ASKED QUESTIONS

 

Apa itu Pasar Triwindu?

Pasar Triwindu merupakan sebuah pasar barang antik dan bekas seluas 2.384 meter persegi dengan bangunan dua lantai. Terdapat banyak pedagang menawarkan berbagai macam barang antik.

Dimana Pasar Triwindu?

Pasar Triwindu terletak di Jalan Diponegoro, Kelurahan Keprabon, Kecamatan Banjarsari, Surakarta. Belokasi sangat dekat dengan Pura Mangkunegaran, hanya seratus meter dari Pura Mangkunegaran. Untuk mendapat petunjuk, lihat di peta. [Location]

Jam operasional Pasar Triwindu?

Pasar Triwindu buka setiap hari bagi pengunjung dari pukul 9 pagi hingga pukul 5 petang.

Apakah ada retribusi bagi pengunjung untuk masuk?

Tidak, tidak ada retribusi untuk masuk. Kunjungi kami!

Bagaimana saya bisa menuju ke Pasar Triwindu?

Klik disini untuk melihat cara/petunjuk menuju ke Pasar Triwindu. [Location]

Dimana saya bisa memarkirkan kendaraan?

Kami menyediakan lahan parkir di bagian depan dari Pasar dan di sisi selatan Pasar. Jangan memarkirkan kendaraan anda di jalan tanpa ijin dari petugas yang berwenang.

Barang-barang seperti apa yang ditawarkan oleh pedagang?

Dikarenakan luasnya area dengan lebih dari 200 kios, ada banyak sekali pedagang yang menawarkan berbagai macam barang antik. Lihat di [Produk]

 

Apakah terdapat ATM?

Untuk saat ini kami tidak memiliki ATM di lokasi, meskipun begitu ada beberapa bank besar dengan mesin ATM di sepanjang Jalan Slamet Riyadi.

Apakah pedagang melayani pembayaran menggunakan Kartu Kredit?

Sebagian iya, namun sebagian besar tidak. Semua pedagang menerima pembayaran tunai, mohon untuk menyempatkan waktu ke ATM saat anda menuju ke Pasar Triwindu.

Aktifitas apa yang bisa dilakukan?

Pasar Triwindu buka setiap hari, anda dapat menjelajahi berbagai macam barang antik di setiap sudut pasar, anda dapat berburu berbagai macam barang yang belum pernah anda temui sebelumnya, dan yang pasti Pasar Triwindu sangat sempurna sebagai tempat berburu foto. Terlebih lagi, bila anda berkunjung pada sabtu malam, akan ada pasar malam di sepanjang jalan di depan Pasar Triwindu. Pasar dimulai pukul 6 petang.

Apakah ada tempat makan di Pasar Triwindu?

Terdapat penjual makanan tradisional di pasar. Akan tetapi, bila anda berjalan bekeliling, kapan saja anda akan menemui penjual makanan legenda yang khas di sekitar Pasar Triwindu. Ada Soto, Gudeg Ceker, Gulai, Selat, dan Wedangan. Ada beberapa restoran modern. Anda bisa membuka peta untuk mencari apa yang menjadi favorit anda.

gallery/img_1127